Sep 252015
 
Objek Sulu-sulu

TOMBAK SULUSULU : Goa dan jalan menuju Tombak Sulusulu yang diyakini sebagai tempat kelahiran Raja Sisingamangaraja pertama di Desa Marbun, Baktiraja, Humbahas, ditargetkan masuk dalam Cagar Budaya Indonesia.

Objek Wisata Tombak Sulusulu  di Desa Marbun, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), yang diyakini sebagai tempat kelahiran Raja Sisingamangaraja pertama ditargetkan masuk menjadi cagar budaya Indonesia. Untuk mencapai itu, Dinas Pariwisata  Sumatera Utara (Sumut) menurunkan sejumlah pihak mewakili arkeologi, sejarawan dan budayawan untuk meneliti situs sejarah tersebut.Kabid Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Rimas Ria Hutabarat, kepada sejumlah wartawan di Baktiraja, Rabu (16/9),  mengatakan, pihaknya telah memiliki program dan penilaian terhadap sejumlah situs di Sumut secara arkeologis.

Sebab itu, pihak Pemprov Sumut sudah menurunkan sejumlah ahli di bidangnya untuk melihat sejauh mana dan sekuat apa situs Tombak Sulusulu dapat masuk menjadi cagar budaya yang dilindungi dan dijaga. “Untuk hasilnya, nanti setelah kita menerima laporan. Yang pasti sejumlah peneliti dari berbagai bidang telah membuat penilaian dan hasil penilaiannya akan menjadi referensi dalam menetapkan Tombak Sulusulu ini sebagai cagar budaya,” terangnya.

Sementara itu, salah seorang peneliti dari Badan Arkelogi Medan, Lukas Partanda Koestoro, menjelaskan, pihaknya sebagai arkeolog melihat adanya tanda kehidupan dari keberadaan Tombak Sulusulu. Di antaranya mulai dari keberadaan lesung berbentuk cawan sebagai tempat penampungan air, serta adanya kearifan lokal yang sangat baik di masa lampau terbukti dari keberadaan goa di dalam Tombak Sulusulu tersebut. “Contohnya saja, bagaimana ketika masyarakat pada masa itu bercocok tanam dari sejumlah aneka ragam tanaman guna mengikat bebatuan di dalamnya,” terangnya.

Lukas memaparkan Situs Tombak Sulusulu merupakan tanda adanya peradaban masa lampau. Dapat terlihat juga dari sejumlah keyakinan masyarakat pada masa itu, di mana aspek di dalamnya memiliki keterkaitan akan berbagai hal. Termasuk dari segi budaya masyarakat, sejarah bangsa yang dapat dilihat dari Sisingamangaraja XII dan aspek geopark.

“Beberapa hal itu lah kenapa situs ini kami anggap pantas dari segi penilaian masuk sebagai bagian dari cagar budaya, kami harapkan masyarakat di sekitar agar mampu memahami serta menjaganya,” kata Lukas.

Direktur Batakologi Nomensen, Manguji Nababan, mengatakan, Tombak Sulusulu  menjadi salah satu saksi dari sejumlah keyakinan masyarakat Batak, khususnya dalam melaksanakan falsafat yang disebut dengan Dalian Na Tolu. “Situs ini memang pantas menjadi  layar budaya yang dilindungi, karena masyarakat Batak memiliki keterikatan dengan situs Tombak Sulusulu,” tutupnya.